Tentang cinta yang dirindukan,
Serah ku pada rembulan,
Yang bising tak terdengar
Yang gelap jadi bingar.
Susur bayang pada ufuk,
Tentang tulus yang menusuk.
Injak hampa yang tirani.
Bolehkah begini?
Cerita, momen, asal ketik, sesekali evaluasi dan apakah memotivasi? #banyakcoretanhidup
Tentang cinta yang dirindukan,
Serah ku pada rembulan,
Yang bising tak terdengar
Yang gelap jadi bingar.
Susur bayang pada ufuk,
Tentang tulus yang menusuk.
Injak hampa yang tirani.
Bolehkah begini?
Tulisan ini dibuat karena kemarin ada yang ngajak tuh ke salah satu gedung di Jkt, yang ternyata ada pameran kayak arsitektur gitu, dan gedungnya tinggi banget. Belum rilis sih, tapi eventnya ini ada di lantai 77 yang begitu gue liat ke jendela waw tinggi be'eng.
Acara ini ngingetin gue dengan banyak hal. Emang dari dulu ya namanya juga ibu kota, kalau bapak kota soalnya gue belum pernah nemu. Katanya metropolitan yang sekarang jadi megapolitan tapi entahlah kenapa orang-orang masih menyebut dengan metropolitan. Mungkin karena ada lagunya, "anak jalanan kota metropolitan, teretet tet tet teret..."
Bagian tidak penting:
Gue lahir dan dibesarkan di Jakarta, yang mana sampai gue sebelum beranjak remaja atau sampe remaja lah ya atau mungkin sampai sekarang? gak deng karena pernah nyentuh gunung, danau yang indah dan pantai yang indah pula alhamdulillah jadi gak terlalu norak. Wakakak.
Ya gimana ga norak, kami terbiasa dengan rumah padat, jalanan macet, minim penghijauan dan gedung tinggi serta emol begitu juga hiburan yang ada di dalamnya sebagai daya tarik anak kota *dulu (penyebutan kami untuk gue dan orang-orang yang senasib ya ceritanya). Nonton bioskop dan makan di restoran atau cafe udah jadi habbit kita-kita yang dulu agaknya baru beranjak remaja buat ngedate gitchu, ya kalo sehat dikit alibinya cfd tapi olahraganya 20 persen sisanya jajan, boleh juga kembali ke bioskop setelahnya haha. Agaknya anak kota ini dimanjakan dengan apa yang sediakan oleh kapitalis dengan baik, wkwkwk tidak men-generalisasi dengg tapi begitu dulu, kurang kreatif menurut gue jujur KWKWK.
Nah karena kebiasaan tersebut, jadilah kami (yang lagi-lagi senasib aje 'kami'nya) adalah manusia paling norak ketika awal ngeliat sawah, sungai jernih, air terjun, gunung, pantai asri beeeegh rasanya pengen hidup di sana dan gamau balik. Etapi kalo bagian ini gue aja. Gapake ada kami-nya.
Oke, ya setelah bagian gak penting itu kita kembali ke topik bahwa Jakarta kota tercinta lima tahunan atau lebih, jujur gue gak inget. Yang mana sekarang sangat banyak wajah-wajah baru. Bagaikan energi positif dan negatif, begitu pula dengan suatu kota. Selalu ada sisi gelap terangnya. Dulu, gue pengen banget untuk ke kota di luar negeri yang bersih, tertib. Sekarang bangga lah sedikit walaupun gak semuanya tapi ada bagian dari wajah Jakarta yang sedap banget modern rapih dan teratur karena juga ditempatin sama orang yang tirtib begitu ehehe. Please ini ceritanya lagi ngomongin positifnya Jakarta dulu brok!
![]() |
| miniatur |
![]() |
| Jepret 1 |
ini merupakan salah dua foto hasil jepretan gue, maaf ya lupa tidak ada kredit. Gue suka, karena persis seperti aslinya, biasanya bangunan ini adanya dipinggil rel, atau dipinggir sungai. Permukiman kumuh, padat penduduk yang mana mereka juga butuh hidup dan tempat berlindung, dari panasnya terik matahari dan dinginnya kamu kalo lagi ngambek, walaupun cuman sekejap je.
Berikut juga beberapa bagian dari Jakarta yang pas gue liat di pameran ini tuh, langsung visual nyambung ke otak dan membuat gue melayang ke memori lama, throwback ribuan memori yang tentunya banyak banget dan akan gue jabarin salah satu duanya aja (soalnya kalo seribu nanti keburu tamat) yang ada di dalamnya hehe, selalu. Karena bersama-sama orang tersayang, salah satunya keluarga.
![]() |
| Jepret 2 |
![]() |
| Jepret 3 |
![]() |
| Jepret 4 |
Pada diriku aku maafkan, kembali aku maafkan yang lalu.
Dua kaki dan juga bahu,
Semoga tetap berjalan walau dengan tersedu dan juga luka biru.
Ingin ku menyambut diriku,
Walau tampaknya tak seindah yang dulu.
Jaga hangat kecil di tengah dinginnya kalbu.
Terdiam aku membisu,
Pada cermin yang juga pilu.
Apa yang kau tatap sampai tampak membeku?
Yakin tetap ku pangku,
Harap - harap dalam sibuk bagai palsu,
Aku dan diri yang menyatu.
Kelak untukku satu.
Beberapa kali putus asa,
beberapa kali ngerasa kayak clueless hidup ini,
overthingking sama gimana kedepannya.
ya namanya juga 'quarter life crisis', bahasa kerennya gitu. atau bisa dibaca dengan 'gue'
Tapi suatu malam gue naik motor lah sama orang special ini, gak ada destinasi tentu. Cuman muter jalan dan jajanan malem aja. Tapi di situ gue juga mikir, gimana dengan orang lain?
Gimana dengan survival mode mereka jualan makanan, baju, aksesoris dan banyak banget di situ. Kalo weekend gue tau itu akan ramai dengan pembeli, tapi kalo weekdays? Yang beli masih dalam hitungan jari, itu pun cuman di kedai-kedai tertentu.
Ada listrik yang selalu nyala, ada wahana yang masih selalu berputar walaupun gak ada yang naik, makanan yang di bakar, ada barang-barang yang perlu dirapihin waktu mereka selesai atau mau jualan, ada es yang bisa mencair.
Sedih banget rasanya, apakah mereka dapat kehidupan yang layak? Apa mereka masih bisa lunasin kebutuhan sehari-hari? kalau mereka gak bisa untuk survive setiap hari gimana?
Yang tau keadaan mereka tentu mereka sendiri, gue cuman lewat di hari itu dan malam itu aja.
Ada sekeluarga yang kelihatan homeless saat itu lagi ribut dengan kakak beradik yang berisik debatin uang 2000, istri dan suami yang lagi debatin duit ceban. HMMM
Gue sedih dan merasa tertampar di sini. Belakangan suka mikir tentang financial gue yang dirasa masih kurang dengan uang tabungan yang saklek harus segitu. Untung dari dulu nyokap ngajarin hidup yang agaknya frugal HEHE. Agak ya, cuman agak. Tapi , I've learned in Harvest Moon jadi kurang lebih tau how to manage. Huehe
Tapi ini gimana sama mereka ya?
Gue malu sama gue yang suka putus asa sama hidup
Gue malu sama gue yang masih ngerasa kurang.
Dan lagi, sekitar mengajarkan untuk evaluasi dan bersyukur. Tapi senengnya gue belakangan ini atau sejak umur di tahun ini kayak punya a journey for being grateful itself but on my mind. Belum ditulis, karena gue pikir kalau ditulis akan menjadi panjang. Tapi cukup disyukuri dan I'll give a smile on whatever it is.
Sama halnya dengan afirmasi, beberapa hal yang menyerempet hal ini, nampaknya udah gue tau sejak dari bangku SD atau SMP ya? Mungkin saat remaja gue cuman pake itu di depan kaca untuk nyemangatin gue kalau mau tanding, atau mau lomba misalkan. Tanding sama lomba bedanya apa?
Nah belakangan atau bahkan ditahun ini juga, gue adalah pemberi afirmasi buat gue sendiri, kayak seneng aja gitu. Hal yang bahkan gue gak mengira kalo punya dampak yang nyamanin gue, ternyata gue punya cara gue sendiri untuk bisa kuat, untuk bisa bertahan. Ternyata susah untuk menjadi tahan banting jadi orang dewasa, dan mulai untuk ga baper sama banyak hal and keep going aja sama semua hal. Yang mana kita semua tau, kalau dunia gak berputar cuman untuk kita aja.
Semoga rasa syukur, sayang dan cinta akan menghangatkan perjalanan gue dan mungkin kalian ya.
Jangan lupa bahagia :)
JANGAN LUPA TONTON IN A HIGHEST MODE!! HEHE
Hadir di dunia atas nama takdir, dan karena takdirnya untuk hidup apapun yang terjadi cuman bisa dinikmatin, dilanjutin, nggak bisa buat minta takdir tiba-tiba berentiin apa yang udah ditakdirin. Ya ga?
Persoalan hidup udah biasa, dari dalam diri, isi kepala, eksternal. Yang kita adain maupun di luar kendali. Bisa untuk ngendaliin pikiran dan tetap menjalani semua dengan kesesuaian tuh udah gue apresiasi saat ini. Ya mungkin memang fasenya. Maksudnya gimana? contohnya lagi sarapan ya fokus untuk nikmatin makanannya, lagi kerja fokus sama kerjaannya jangan lagi berak fokus sama tainya. eh itu juga fokus anjay BWAHAHA. Dahlah intinya ya apa yang dilakuin pikirannya disitu. Untuk ngerjain sesuatu dan menahan mood untuk ga ngedown, atau apapun itu sejauh ini gue apresiasi terhadap diri sendiri. Walaupun nggak mudah, jujur. Udah berapa ribu hela napas dan nyesek di dada karena mikirin semuanya.
Gue yakin dengan diri ya bahwa hal - hal tersebut masih bisa kita usahain, dengan makan enak, jalan - jalan. Loh kok bau-baunya banyak ngabisin duit ya? haha kadang gak bisa dipungkiri juga sih, ada juga fasenya beli barang-barang yang rada impulsif dikit. Ya namanya cewe, kayak tiba-tiba aja kepengen beli skincare atau lipstick yang menurut gue gak perlu. TAPI LUCU! ya intinya kepake lah, gue gapernah kok beli barang yang tidak ada gunanya. I menghargai uang ya CUYY wle. Intinya semua dalam effort menyenangkan diri sendiri. Karena kalo bukan gue, siapa lagi. Kadang juga mikir, apakah gue bisa menyenangkan dan menyamankan partner gue nanti dengan gue yang banyak kurangnya ini? :( #curcol
Maka dari itu, rasa-rasa penat yang sudah menumpuk gue nggak tahan lagi. Bukan ada lagi di fase untuk bercerita sama seseorang dalam hidup kita yang paling dekat, curhatin semua sama yang diatas kemudian berdamai dengan diri sendiri. cegitu...
eh tapi bener gue ga sesetrong itu please.
Yaudah tanpa basa basi rencana gue dengan salah satu bestie untuk melancong tempat yang emang dipengenin di sekitar tahun 2018an bisa terlaksana. Gue pun gaktau kenapa ini bisa direncanakan dalam kurun waktu satu minggu. Butuh prepare uang, tenaga, minat, riset karena menurut gue agak jauh. Tapi minggu depan menemukan tanggal merah dan ada harpitnas alias hari seipit nasional dan kita ber3 mengajukan cuti dan approved. ALHAMDU?LILLAH. Hampir saja tidak dapat bundling karena perencanaan yang cuman seminggu tapi gue dengan kekeuh mengajak dua bestie ini untuk gaskan rencana. Karena setelah tanggal tersebut, gak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi. Contoh gue meninggal. WKWK maksudnya kayak, bisa aja gue mendadak dilamar Luke Hemmings gue pasti langsung ke Aussie banget tuh sorry. HAHA
Dengan perjalanan jauh bersama orang yang tepat alias ga recet, walaupun dengan Ica yang kayak bayi alias rewel banget bangsyad. Dikit sih rewelnya tapi aku cayank Ica. akhirnya sampai juga dengan pertarungan melawan panas dalam kapal perjalanan 5 jam, ditambah bis dari Jakarta 12 jam. Tuir di jalan brok!
Intinya, gue memang mencari sesuatu di sana, tapi tidak menempatkan sebagai ekspektasi. Apa maksudnya? Kesana buat healing? nggak. Kesana buat refreshing aja, karena healing yang sebenarnya itu acceptance dalam diri. Dan alhamdulillah, bener aja. Gue dapet bonus disana, gue mendapati semangat untuk hidup kembali walaupun nggak sepenuhnya, tapi gue yakin gue dengan diri gue ini bisa menjadi obat gundah gulana atas gue. Gue tidak bisa berharap kepada siapapun selain diri sendiri dan berucap dengan Tuhan. (deepdowninsidegueberharapuntukmelancongbersamapartnerhiduptapi...) tapi beloman aja chapternya. Kalau ada gue akan ceritain tentang sosoknya disini berjudul akhirnya. Kenapa? Karena pencarian dan penantian seumur hidup lah coeg.
ah udah kebanyakan curcolnya. Gue mau kasih tau betapa indahnya Kamirun Jiwi.
*WARNING!*
JANGAN LUPA NONTONNYA JANGAN 240P TOLONG NAIKIN SAMPAI PALING HD BIAR LEGA KAYAK HABIS BERAQ THX
-Semoga apa yang kamu perjuangkan dan harapkan, satu-satu menjadi nyata. tetap berusaha, jangan lupa bahagia :)