Tubuh terlentang menatap langit-langit kamar,
Banyak yang terlintas dalam kepala,
Bagai traffic padat Jakarta dan sekitarnya,
Ramai, padat, sesak penuh polusi tapi tetap yang di jalan punya tuju,
Berdesakkan setiap orang ingin hidup.
Lagu-lagu diserapi, bagai napas pula yang dirasa,
hembus demi hembus dari tubuh yang bukan ideal pun cantik.
Momen lalu, makna demi makna sebagai bekal hari yang misterius,
bagai puzzle demi puzzle yang dirangkai.
Mencari puzzle yang hilang? Ataukah terputar karena warna gradasi yang sulit?
Semata-mata hanya bertahan, tapi juga terkadang hanyut dalam waktu yang tak bisa terulang.
Terkadang melebur dalam rasa eksotis momen - momen yang tak ingin tuk usai.
Mau apa? Mau kemana?
Hanya bertahan, begitu jawabnya.