Luka Merah

 Ada hal-hal yang memang patah

Ada hal-hal yang memang salah

Memberi luka menghapus asa,

Mungkin tidak untuk hari ini.


Mungkin enggan untuk hadir,

Gelap menjadi asal tubuh muncul,

Jadi sasaran terpa cahaya terang.


Oh bukan itu maksud Ibu,

Sayang dalam bisu, memberi aksi bagai rindu.

Tidak apa, aku hanya ingin pulang.

Kelam

Aku sudah matikan lampu, 
Namun aku terbangun dari gelapnya ruang kamar
Gelap saja tak cukup, harus pikiran tenang tuk pulas dan tidur.

Aku pikir aku lelah, namun lelah saja tidak cukup untuk menidurkan
Banyak khawatir, banyak pikir. 
Padahal tau, jika pikir memang tak akan ada batas atau memang semua yang kamu pikirkan ada jawaban?
Tentu tidak.

Hari - hari sulit dijalani,
Bagai menarik sebongkah batu besar dengan tali di bawah terik.
Parahnya lagi kehilangan arah untuk melangkah.

Kembali berpikir tentang eksistensi diri pada dunia, jawaban yang lagi-lagi hanya menghela napas.
Aku ingin usai, aku ingin tenang dalam pelukan.
Pelukan apa? Agama?

Kiranya orang-orang tersenyum memulai hari untuk disambut, mungkin kecuali Senin.
Tidak ada yang tahu, semua isi dunia yang palsu
Sementara, ada kemudian hilang.
Jikalau boleh berpesan, jika ingin hancur maka hancur saja.
Aku sendirian, aku dalam kelam.

Hanya

Tembok-tembok membentuk persegi empat, tentang aku & elektronik penyambung kehidupan yang lain.

Saat padam, hanya aku & gelap.
Beritahu aku jika gelap & tenang bagai dua hal yang tak terpisah.
Bagai jantungku & jantungmu.
Aku ingin dekat,
Aku ingin melekat.
Biar saling berpeluk.

Namun terang berbisik,
Hanya ada aku & bayangku.

Laju

Tubuh terlentang menatap langit-langit kamar,

Banyak yang terlintas dalam kepala,

Bagai traffic padat Jakarta dan sekitarnya,

Ramai, padat, sesak penuh polusi tapi tetap yang di jalan punya tuju,

Berdesakkan setiap orang ingin hidup.


Lagu-lagu diserapi, bagai napas pula yang dirasa,

 hembus demi hembus dari tubuh yang bukan ideal pun cantik.


Momen lalu, makna demi makna sebagai bekal hari yang misterius, 

bagai puzzle demi puzzle yang dirangkai.


Mencari puzzle yang hilang? Ataukah terputar karena warna gradasi yang sulit?


Semata-mata hanya bertahan, tapi juga terkadang hanyut dalam waktu yang tak bisa terulang.

Terkadang melebur dalam rasa eksotis momen - momen yang tak ingin tuk usai.

Mau apa? Mau kemana?


Hanya bertahan, begitu jawabnya. 



Begitu?

 Di keramaian yang akrab memang asyik,

Apa itu penderitaan hati bahkan duniawi?

Yang terdengar keras-keras banyolan yang akrab, tawa sampai dua bola mata sempat hujan. 


Bukan, bukan maksud yang berduka

Hingga harus kembali pada tempat yang masing-masing

Tembok-tembok membentuk segi empat yang memenjara, mempererat kamu dan pesawat canggihmu.


Hanya ada kamu dan duniamu yang sekarang katanya disebut virtual, 

Kembali hati bertanya-tanya?

Ataukah pikiran yang melayang?

Sudah pasti kembali pada derita masing-masing juga


Tidak, tidak seakrab kondisi yang tidak lama 

Kamu terlalu akrab dengan pesawat canggihmu, dan tembok segi empat.

Kamu ingin yang nyata, kamu ingin terpenjara bahkan terpenjara dengannya lalu bisa kah?


Terlalu sepi

Terlalu sedih

Terlalu patah dan terlalu miris

Iya, hidupmu


Bilamana Kamu

 Bilamana kamu,

Kamu yang juga banyak pikir hal ini atau sibuk bahkan tidak ingin mencari kekosongan hati.

Namun bilamana itu kamu,

Terlebih dahulu maafku pada yang diharap namun tiada pada diri

Bilamana kamu, 

Aku ingin ajak berkelana sekejap menikmati yang baru, tanpa ingat darimana asal, menjadi yang akrab diantara yang asing.

Bahkan sekelebat angin yang lewat tipis atau kencang pun dinikmati dengan senyum,

Melihat hujan dengan berisik tawa,

Ataukah terik dengan seringai manis dan genggaman tangan

Bilamana itu kamu, 

Marah dan ego mu bahkan aku, harap sabar-sabar, yang ribut biarkan ribut, yang marah biarkan lepas, nanti juga padam.

Padam tanpa pergi, padam dan kembali peluk.

Bilamana itu kamu,

Aku ingin mendengar, keluh kesah pada hidup yang mana hanya untuk 'survive' dengan memaknai yang paling dimaknai?

Seberapa jauh kamu melihat? Bagaimana pandangan dari sudut tempat kamu berdiri, duduk atau kah tidur?

Bilamana itu kamu, 

Maka temani aku dalam hidup, akan ku temani kamu dalam setiap waktu, fase demi fase hidup, berapa kali datangnya hujan atau sesekali melihat pelangi? 

Entah

Bilamana itu kamu, maka lanjutkanlah hidup, tapi bersama. Lebih dari sekedar memaknai yang dimaknai bukan?


Ombang - Ambing

Haruskah menertawakan diri ini tiga kali?
Ditengah jalan hidup rasa-rasa sebagai komedi.
Lucu dan konyol sekali.
Kata Tulus, 'Kecil sekali, muda sekali, tua sekali' 

Lalu haruskah menertawakan diri paling tidaknya sekali?
Hidup di tengah perjalanan, terombang - ambing. 
Sekiranya berlayar, temu pulau tak dapat singgah untuk menetap.
Maka ingin terbang, kata Netral 'Terbang dan Tenggelam' begitu kah?

Mungkin biar langit jadi pemandangan.
Sesekali menganalisis awan, yang konon terlihat namun tak tersentuh.
Sekiranya ditemani langit yang kadang tampak seperti putih, atau kah biru?
Setidaknya sinar matahari menyentuh, dan rembulan ikut serta menemani malam.
Indah namun kelam?

2021 & 23

oh hi, in this chapter I may write in english. ikr my grammar wasn't that good but...why do we don't try? siapa takoed yakan gaiz!

on this era, lol i mean, about last year. also my 23th age. its the deepest year that ever touch the deepest of my soul. ciah elah. 

I've ever say something that i believe that i created this myself, also for me. it sounds like 

"lakuin sesuatu yang lu suka sampe lu brengsek"

WATCH OUT IT'S NOT LIKE WHAT IT IS. I made them having negative connotation but it doesn't.

sometimes, you may always follow your head or heart. right?

we may find the real point of this life in our life, and i think i found it at this age and year. damn i feel like ikhlas, and let things go that we might hold it too tight it is really okay and is the key.


we have God, that will lead us.

we have God that we believe, like as always and 24/7


and.........................................end