Bilamana kamu,
Kamu yang juga banyak pikir hal ini atau sibuk bahkan tidak ingin mencari kekosongan hati.
Namun bilamana itu kamu,
Terlebih dahulu maafku pada yang diharap namun tiada pada diri
Bilamana kamu,
Aku ingin ajak berkelana sekejap menikmati yang baru, tanpa ingat darimana asal, menjadi yang akrab diantara yang asing.
Bahkan sekelebat angin yang lewat tipis atau kencang pun dinikmati dengan senyum,
Melihat hujan dengan berisik tawa,
Ataukah terik dengan seringai manis dan genggaman tangan
Bilamana itu kamu,
Marah dan ego mu bahkan aku, harap sabar-sabar, yang ribut biarkan ribut, yang marah biarkan lepas, nanti juga padam.
Padam tanpa pergi, padam dan kembali peluk.
Bilamana itu kamu,
Aku ingin mendengar, keluh kesah pada hidup yang mana hanya untuk 'survive' dengan memaknai yang paling dimaknai?
Seberapa jauh kamu melihat? Bagaimana pandangan dari sudut tempat kamu berdiri, duduk atau kah tidur?
Bilamana itu kamu,
Maka temani aku dalam hidup, akan ku temani kamu dalam setiap waktu, fase demi fase hidup, berapa kali datangnya hujan atau sesekali melihat pelangi?
Entah
Bilamana itu kamu, maka lanjutkanlah hidup, tapi bersama. Lebih dari sekedar memaknai yang dimaknai bukan?