Dalam perjalanan hidup memang banyak lika-liku karena sejatinya hidup bukan jalan tol yang cuma bayar dan lewat dengan mandangin jalan dan bisa istirahat di rest area. Kali ini, cuma pengen membagi kisah yang bahkan gue enggak tau tujuannya apa.
Tapi gue pikir bukan karena gak ada tujuan sih. Karena ini tentang momen yang dimana menurut gue hidup juga tentang momen-momen yang semuanya ada masanya. Seperti pula pada blog gue yang banyak menyimpan momentum 'random' yang berlalu, yang tentu ada pada 'masanya'.
First step, pada kehidupan setelah lulus kuliah yang memanggil gue untuk kerja, disalah satu tempat di daerah Jakarta Barat. Gak perduli pekerjaannya apa, yang penting gue anaknya mau kerja, mau belajar dan berlogo halal. Karena apa? Kembali pada dua kalimat awal di paragraf ini.
Untuk mencapai suatu lokasi tertentu, tentunya membutuhkan sesuatu untuk dapat memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Yang tidak bukan dan tidak lain membutuhkan alat transportasi. Ya dong? Ya gak? Berhubung gue anaknya males jalan dan kalau bisa nebeng ya nebeng tanpa memberatkan minta anter atau jemput. Gue akan lakukan itu, itulah fungsinya.....nebeng. Kegiatan nebeng pun gue lakukan setiap hari sama teman kuliah yang sekarang kerja bareng. Sampai pada saat dimana teman nebeng alias PP bareng gue ini kena covid-19 pas banget lagi tinggi-tingginya covid-19 di Jakarta.
Yah akhirnya gak mungkin membawa mobil setiap hari karena tidak mungkin juga membayar bensin yang ada gaji habis, sudah siap naik motor sejak kelas 3 SD tapi enggak ada motornya. Akhirnya gue memilih kereta. Cepat dan jalan kakinya paling deket ke tempat gue kerja jadi, hmmm baiklah.
Naik kereta semasa pandemi yang lagi tinggi-tingginya di Jakarta sungguh mengerikan namun juga indah. Sulit butuh surat kerja jadi yang naik kereta cuman pekerja tertentu aja yang krusial. Kenapa ngeri karena ya naik kereta bersama orang-orang lain tapi sepiiii banget dibanding sudah normal. Jadi alhamdulillah, seneng kayak berasa orang urban tapi di negara maju, ea. Masker harus double, medis dan kain. Udah gitu kan pasti menyentuh sesuatu di kereta entah itu tempat duduknya, pegangan besinya. Jadi setiap habis menyentuh apapun selalu semprot-semprot panik-panik ajaib.
Bagian indahnya karena saat itu pandemic, dimana orang-orang sebagian banyak atau bahkan 70 persen stay di rumah. Jalanan sepi, langit Jakarta biru, jalan raya tuh kayak jalan kenangan gitu...jiakh. Intinya bukan jalanan Jakarta yang crowded seperti biasanya.
Bagian termanis adalah setiap pagi ngeliat matahari yang masih oren kayak kuning telur setengah mateng, menciumi gedung-gedung bertingkat dan terkadang juga masuk ke dalam jendela kereta yang akhirnya sampai ke gue. Indah rasanya, semanis itu. Semanis kamu. Eh
Yaudah gitu aja sekian, ada video sangat amat pendek yang gue ambil dan gue edit pake lagu kesukaan gue dalam perjalanan sebagaimana anker alias anak kereta in a short time, khususnya dalam masa pandemi. Enjoy, cheers!